Selasa, 18 Februari 2014

PRINSIP-PRINSIP PELATIHAN

-->
Oleh Rasydi Sumetry

Teori dan metodologi pelatihan adalah sebuah unit yang terpisah satu sama lain dari pendidikan fisik dan olahraga, dan mempunyai prinsip spesifik berdasarkan atas ilmu biologi, psikologi dan pedagogik. Panduan-panduan dan peraturan-peraturan ini yang secara sistematis mengatur pelatihan dikenal sebagai prinsip-prinsip dalam pelatihan. Prinsip-prinsip spesifik ini merefleksikan ketelitian akan pemenuhan tujuan penting dari pelatihan yaitu meningkatkan skil dan tingkatan penampilan. Prinsip pelatihan adalah bagian dari konsep keseluruhan dan walaupun kita tidak melihat hal ini sebagai unit yang terisolir, kita menguraikan mereka secara terpisah untuk sebuah presentasi yang lebih dapat dipahami. Penggunaan prinsip pelatihan ini dengan benar akan menciptakan organisasi berkualitas dan isi, maksud, metode, faktor-faktor serta komponen pelatihan yang lebih fungsional.
Partisipasi Aktif
Sangat penting untuk mengetahui tiga faktor prinsip ini yaitu: Ruang lingkup dan objektivitas dari penelitian, kemandirian atlit dan peran kreatif, serta tugas atlit selama fase persiapan yang panjang. Pelatih harus mempromosikan apa yang disebut dengan kemandirian dan kehati-hatian melalui sebuah kepemimpinan dan keahlian. Atlit harus memahami petunjuk pelatihnya ini sebagai sebuah hal untuk meningkatkan skil, kemampuan biomotor dan kualitas psikologi, sehingga mereka bisa menangani kesulitan-kesulitan selama pelatihan.
Memaksimalkan ketelitian dan partisipasi aktif dalam pelatihan adalah dengan mendiskusikan bersama setiap atlit peningkatan yang diperolehnya secara tetap dan beraturan. Atlit kemudian menghubungkan latar belakang objektif dari pelatih mereka dengan subjektivitas penampilan mereka. Dengan membandingkan kemampuan mereka dengan subjektif perasaan atas kecepatan, kelembutan dan kenyamanan, atlit akan melihat diri mereka sebagai orang yang kuat dan nyaman dengan posisinya. Mereka akan bisa mengerti positif dan negatifnya dari penampilan mereka, apa-apa saja yang harus ditingkatkan, serta bagaimana untuk meningkatkanya. Pelatihan juga melibatkan partisipasi dan pendengaran aktif dari atlit dan pelatih. Atlit harus menjaga kemampuan dan dirinya. Karena masalah pribadi bisa saja berakibat pada penampilan mereka, maka atlit harus berbagi tentang masalah kepada pelatih, jadi mereka bisa mencari jalan keluarnya dengan bersama.
Jangan membatasi partisipasi atlit pada saat pelatihan. Atlit bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka ketika tidak diawasi oleh pelatih. Karena hal-hal seperti mengkonsumsi alcohol dan merokok mempengaruhi penampilan mereka, akibatnya atlit harus menolak dengan tegas hal-hal seperti itu. Selama waktu bebas, aktifitas-aktifitas sosial memberikan kepuasan dan rasa santai tapi atlit juga harus mendapatkan istirahat yang cukup. Hal ini akan membuat pergantian faktor fisik dan psikologi yang baru sebelum pelatihan berikutnya. Atlit yang tidak setia pada semua persyaratan dan pelatihan yang tak diawasi tidak akan bisa memberikan penampilan maksimal. Ritter (1982) memberikan beberapa peraturan dan prinsip-prinsip ini, yaitu:
Pertama, pelatih harus menjelaskan dengan detail objektifitas (tujuan) dari pelatihan kepada atlit dan pelatih secara aktif juga harus membangun tujuan tersebut sesuai dengan kemampuan si atlit.
Kedua, atlit harus berpartisipasi aktif dalam merencanakan dan menganalisa pelatihan jangka panjang dan pendek. Atlit harus mampu menilai diri sendiri, supaya dia punya peranan positif disini. Atlit yang berpengalaman diharapkan untuk lebih terlibat dari pada atlit pemula. Anda kadang bisa memotivasi atlit untuk mengembangkan program sendiri. Kemudian modifikasi program tersebut sesuai dengan kualitas dan objektif si atlit. Catatan dan komentar atlit yang dibuat dalam jurnal pelatihan mereka penting dalam mendisain sebuah program. Sebuah evaluasi kritis dari rencana sebelumnya juga bisa menjadi sangat berguna.
Ketiga, atlit harus melewati tes dan standar tes secara periodic sehingga nantinya aka nada gambaran jelas dari tingkatan penampilan dari perkembangan mereka. Kesimpulan yang sesuai bisa dibuat berdasarkan kepada informasi objektif.
Terakhir, atlit harus melakukan tugas secara individual atau sesi pelatihan sendirian tanpa ada pengawasan. Sering para atlit dan pelatih yang tidak bisa mengusakan lebih dari satu pelatihan perharinya. Atlit yang mungkin punya objektif tinggi pada dirinya bisa merasa bahwa hal ini tidak mudah untuk diperoleh. Beberapa atlit kadang juga bersaing denag individu lain yang punya waktu pelatihan lebih banyak. Salah satu jalan keluar paling efesien untuk mengatasi masalah ini adalah, si atlit harus melengkapi pelatihan mereka dengan atifitas tambahan di rumah sebelum sekolah atau bekerja. Hal ini memberikan keuntungan positif. Laju perkembangan atlit dan kemampuan seperti fleksibilitas dan kekuatan akan meningkat selam pelatihan dengan diri sendiri. Pendekatan ini adalah cara yang efektif untuk membuat atlit mengerti peran mereka. Mereka akan berpartisipasi lebih teliti dalam memperoleh tujuan.
Pelatih juga harus mendemostrasikan sebuah sikap waspada dan teliti selama pelatihan denga memberikan objektif yang jelas dan akurat serta mampu untuk mencapai titik tersebut. Ini akan membangkitkan ketertarikan selama pelatihan dan membuat gairah serta antusiasme tinggi untuk berpartisipasi dengan sukses dalam kompetisi. Ini juga menambah perkembangan psikologi seperti keteguhan hati dan kekuatan pikiran sehingga bisa menyelesaikan masalah selama pelatihan. Tentukan objektif sehingga cukup tangguh untuk ditantang dan cukup realistic untuk memperoleh apa yang diinginkannya (Mc Clements dan Botterill 1979). Pelatih harus merencanakan tujuan jangka panjang dan jangka pendek untuk setiap atlit, dimana untuk kedepannya hal ini akan menstimulasi secara efektif ketertarikan atlit dalam latihan.

Tidak ada komentar: